Rabu, 15 Juli 2009

KEPEMIMPINAN DALAM MAHASISWA

Peranan Perguruan Tinggi adalah untuk mendidik mahasiswa agar memiliki kemampuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan daya nalarnya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berjiwa penuh tanggung jawab dan pengabdian yang besar terhadap masa depan bangsa dan Negara Republik Indonesia. Diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan potensi, bakat dan minat yang dimilikinya. Organisasi kemahasiswaan intraperguruan tinggi merupakan wahan dan serana pengembangan diri mahasiswa kearah perluasan wawasan dan peningkatan kecendekiawanan serta integritas kepribadian mahasiswa untuk mewujudkan tujuan pendidikan tinggi, sehingga intelektualitas dan integritas pribadi mahasiswa dapat berkembang.

Selama ini banyak sekali kekeliruan mahasiswa tentang pemahaman arti kepemimpinan. Pada umumnya mahasiswa melihat pemimpin adalah sebuah kedudukan atau sebuah posisi semata, akibatnya banyak orang yang mengejar untuk menjadi pemimpin dengan menghalalkan berbagi cara dalam mencapai tujuan tersebut. Mulai dari membeli kedudukan dengan uang, mejilat atasan, atau cara lainnya demi mengejar posisi pemimpin. Pemimpin hasil dari cara seperti ini akan selalu menggunakan kekuasaanya untuk mengarahkan, memperalat, bahkan meguasai oranglain agar orang lain mengikutinya. Jenis pemimpin yang seperti ini suka menekan, akibatnya melahirkan pemimpin yang tidak di cintai, tidak disegani, tidak di taati dan bahkan dibenci , karena dinamika mahasiswa yang kental akan dunia akademik akan terus terdistorsi dengan budaya global yang cenderung pragmatic bahkan oportunis bila usaha penyadaran dan pencerahan tidak sesegara mungkin dilakukan.

Independensi organisasi kemahasiswaan, usaha penyadaran dan pencerahan tidak lagi merupakan suatu hal yang mustahil. Dengan semangat organisasi kemahasiswaan sebagai “ agent of change “ yang menjaga sikap kritis terhadap kebenaran dan keadilan, kita mulai babak baru yakni organisasi kemahasiswaan Universitas Siliwangi yang berpegang teguh pada cita-cita (devote of idea) dan mengabdi pada ilmu pengetahuan (devote of knowledge), agar yang tadinya sudah maju menjadi lebih maju lagi.

Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi orang lain. Menurut kaidah, para pemimpin adalah manusia super lebih dari pada yang lain, kuat, gigih, dan tahu segala sesuatu (White, Hudgson dan Crainer). Para pemimpin juga merupakan manusia yang jumlahnya sedikit, namun peranannya dalam organisasi merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai, karena dari ide pemikiran dan visi para pemimpin akan menentukan arah perjalanan suatu organisasi. Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dari tingkat kinerja organisasi tersebut, akan tetapi kenyataannya membuktikan bahwa suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah, ketika tanpa kehadiran pemimpin.

Seorang pemimpin ataupun suatu orgnisasi harus mempunyai visi dan misi serta tujuan dan saran. Menurut Michael Hart sang penulis buku “Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah” ini menyatakan bahwa Muhammad bukan semata pemimpin agama, tatapi juga pemimpin dunia. Michael Hart menilai, adanya kombinasi yang tak tertandingi, yang mampu dipegangnya sacara seimbang antara agama dan duniawi, melekat erat dalam diri Nabi Muhammad SAW.

Menurut ahli sejarah Muhammad Husein Haekal, manyatakan bahwa peri kehidupan Muhammad SAW yang mulia sesungguhnya berawal dari keindahan sifat-sifatnya sebagai manusia. Mengingat begitu banyak pemimpin yang tidak sempurna, misalnya dicintai namun tidak sungguh-sungguh berusaha memberikan teladan dalam berkarya nyata atau seblaiknya bersungguh-sungguh berusaha tetapi tidak dicintai oleh pengikutnya, bahkan ada juga yang sudah dicintai, sudah dipercaya namun dengan mudah dilupakan orang, maka tidaklah berlebihan jika hanya Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pemimpin yang telah berhasil mencapai kepemimpinannya secara sempurna.

Beberapa pendapat tersebut, apabila diperhatikan dapat dikategorikan sebagai teori kepmimpinan dengan sudut pandang Personal-Situasional. Hal ini disebabkan pandangannya tidak hanya pada masalah yang ada, tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun antar pimpinan dengan kelompoknya. Semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok, maka aktivitasnya semakin sesuai dengan norma kelompok, interaksinya semakin meluas dan banyak anggota kelompok yang berhasil diajak brinteraksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar